Selasa, 13 September 2011

perencanaan pelabuhan



BAB I
PENDAHULUAN

I.1        Definisi Pelabuhan

            Salah satu simpul dari Mata Rantai kelancaran Angkutan Laut dan Darat adalah dengan adanya  Pelabuhan. Secara Teknis, Bangunan Maritim yang dimungkinkannya Kapal-kapal berlabuh atau bersandar dan kemudian dilakukan bongkar muat adalah pelabuhan (Port).

            Dalam definisi lain, Pelabuhan adalah daerah pelabuhan yang terlindung dari gelombang/arus,sehingga kapal dapat berputar (Turnin basin),Bersandar atau membuang sauh,demikian rupa sehingga bongkar muat atas barang dan perpindahan penumpang dapat dilakasanakan; guna mendukung fungsi-fungsi tersebut dibangun dermaga, jalan, gudang, fasilitas penerangan, telekomunikasi dan sebagainya. Sehingga fungsi pemindahan muatan dari dan ke kapal yang bersandar di pelabuhan menuju tujuan selanjutnya dapat dilanjutkan.I.2        Kriteria Pembangunan Pelabuhan

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembangunan suatu pelabuhan antara lain adalah kebutuhan akan pelabuhan dan pertimbangan ekonomi volume perdagangan melalui laut dan adanya hubungan dengan daerah pedalaman baik melalui darat maupun dari laut. Oleh karena itu pelabuhan harus memenuhi beberapa persyaratan atau kriteria berikut :
Ø   Harus ada hubungan yang mudah antara transportasi darat dan pelabuhan seperti jalan raya, truk, kereta, dan lain-lain, sehingga barang-barang dapat dengan mudah diangkut dari dan ke pelabuhan dengan mudah dan cepat.
Ø   Pelabuhan berada dalam suatu lokasi yang mempunyai daerah belakang (hinterland) yang subur dengan populasi penduduk yang cukup padat.
Ø   Pelabuhan harus mempunyai kedalaman air dan lebar alur yang cukup.
Ø   Kapal-kapal yang mencapai pelabuhan harus bisa membuang sauh selama menunggu untuk merapat ke dermaga guna bongkar muat dan pengisian bahan bakar.
Ø   Pelabuhan harus mempunyai fasilitas bongkar muat barang (crane, dll) serta gudang-gudang penyimpanan barang.
 Ø  Pelabuhan harus mempunyai fasilitas untuk mereparasi kapal-kapal.              
I.3        Peranan Pelabuhan
Sebagaimana kita ketahui bahwa bumi ini dua per tiga terdiri atas perairan. Daerah yang begitu luasnya membutuhkan suatu sarana dan prasarana yang akan menghubungkan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Peranan pelayaran adalah sangat penting bagi kehidupan sosial, ekonomi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan serta hal-hal yang lainnya.
Kapal sebagai sarana pelayaran yang menghubungkan antar daerah mempunyai peran yang sangat penting dalam sistem angkutan laut. Untuk mendukung kegiatan dari kapal dalam melakukan kegiatan pelayaran dibutuhkan prasarana berupa pelabuhan. Pelabuhan merupakan tempat pemberhentian (terminal) kapal setelah melakukan pelayaran. Di pelabuhan ini kapal melakukan berbagai kegiatan seperti menaik-turunkan penumpang, bongkar muat barang, pengisian bahan bakar dan air tawar, melakukan reparasi, mengadakan perbekalan dan sebagainya.
Pelabuhan merupakan pintu gerbang yang menghubungkan dan memperlancar komunikasi antar daerah yang satu dengan yang lainnya. Selain untuk kepentingan sosial dan ekonomi, ada pula pelabuhan yang dibangun untuk kepentingan pertahanan dan keamanan suatu daerah atau negara. Dalam hal ini pelabuhan tersebut dinamakan pangkalan angkatan laut atau pelabuhan militer.
Kebutuhan akan pelabuhan pada dasarnya timbul untuk memenuhi beberapa hal berikut ini yaitu:       
Ø  Pembangunan pelabuhan yang didasarkan pada pertimbangan politik. Sebagai contoh pelabuhan militer yang diperlukan untuk mendukung pertahanan dan keamanan suatu daerah atau negara.
Ø  Pembangunan suatu pelabuhan diperlukan untuk melayani atau meningkatkan kegiatan ekonomi di daerah belakangnya (hinterland) dan untuk menunjang kelancaran perdagangan antar pulau atau negara (eksport dan import) serta mendukung perkembangan daerah sekitarnya.
Ø  Mendukung kelancaran produksi suatu perusahaan atau pabrik. Pelabuhan diperlukan untuk memperlancar pemasaran hasil-hasil produksinya, atau mendatangkan bahan baku untuk keperluan produksinya. Bahkan ada pelabuhan khusus yang digunakan untuk melayani perusahaan dalam berproduksi.
I.4        Pemilihan Lokasi Pelabuhan
Pemilihan lokasi untuk membangun pelabuhan meliputi daerah pantai dan daratan. Pemilihan lokasi tergantung dari beberapa faktor seperti kondisi tanah dan geologi, kedalaman dan luas perairan, perlindungan pelabuhan terhadap gelombang, arus dan sedimentasi, daerah daratan yang cukup luas untuk menampung barang yang akan dibongkar muat, jalan-jalan untuk transportasi, dan daerah industi di belakangnya. Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap penentuan lokasi pelabuhan adalah sebagai berikut :
ü  Biaya pembangunan dan perawatan bangunan-bangunan pelabuhan, termasuk pengerukan pertama yang harus dilakukan.
ü  Biaya operasi dan pemeliharaan, terutama pengerukan endapan di alur dan kolam pelabuhan.
I.4.1       Tinjauan topografi dan geologi
Keadaan topografi daratan dan bawah laut harus memungkinkan untuk membangun suatu pelabuhan dan kemungkinan untuk pengembangan di masa mendatang. Daerah daratan harus cukup luas untuk membangun suatu fasilitas pelabuhan seperti dermaga, jalan, gudang, dan juga daerah industri. Kondisi geologi juga perlu diteliti mengenai sulit tidaknya melakukan pengerukan daerah perairan dan kemungkinan menggunakan hasil pengerukan tersebut untuk menimbun tempat lain.
I.4.2       Tinjauan sedimentasi
Pelabuhan harus dibuat sedemikian rupa sehingga sedimentasi yang terjadi harus sesedikit mungkin. Proses erosi dan sedimentasi tergantung pada sedimen dasar dan pengaruh hidrodinamika gelombang dan arus. Proses sedimentasi ini sulit ditanggulangi, oleh karena itu masalah ini harus diteliti dengan baik untuk dapat memprediksi resiko pengendapan. 
I.4.3       Tinjauan gelombang dan arus
Gelombang menimbulkan gaya-gaya yang bekerja pada kapal dan bangunan pelabuhan. Untuk menghindari gangguan gelombang tersebut maka perlu dibuat bangunan pelindung pantai. Tinggi gelombang dan kecepatan arus yang masuk di perairan pelabuhan nilainya harus sekecil mungkin agar tidak mengganggu bongkar muat kapal di pelabuhan.
I.4.4       Tinjauan pelayaran
Pelabuhan yang dibangun harus mudah dilalui kapal-kapal yang akan menggunakannya. Diharapkan bahwa kapal-kapal yang sedang memasuki pelabuhan tidak mengalami dorongan arus pada arah tegak lurus sisi kapal. Demikian juga, sedapat mungkin kapal-kapal harus memasuki pelabuhan pada arah sejajar dengan arah angin dominan. Gelombang yang mempunyai amplitudo besar akan menyebabkan diperlukannya kedalaman saluran pengantar yang lebih besar, karena pada keadaan tersebut kapal-kapal bergoyang naik turun sesuai dengan fluktuasi muka air. 

I.5.         Macam Pelabuhan
              Pelabuhan dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang tergantung pada sudut tinjauannya,yatu dari segi penyelenggaraannya, pengusahaannya, fungsi dan perdagangan nasional dan internasional, segi kegunaan dan letak geografisnya.
I.5.1.      Ditinjau dari segi penyelenggaraannya
1. Pelabuhan Umum
Pelabuhan umum diselenggarakan untuk kepentingan pelayaran masyarakat umum. Penyelenggaraan pelabuhan umum dilakukan oleh pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut. di Indonesia di bentuk empat badan usaha milik Negara yang diberi wewenang mengelolah pelabuhan umum diusahakan. Keempat badan usaha tersebut adalah PT (persero) Pelabuhan Indonesia I berkedudukan di Medan,Pelabuhan Indonesia II berkedudukan di Jakarta, Pelabuhan Indonesia III berkedudukan di Surabaya dan Pelabuhan Indonesia IV berkedudukan di Makassar.
2. Pelabuhan Khusus
Pelabuhan khusus diselenggarakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu. Pelabuhan ini tidak boleh digunakan untuk ke-pentingan umum, kecuali dalam keadaan tertentu dengan ijin pemerintah. Pela-buhan khusus dibangun oleh perusahaan baik pemerintah maupun swasta, yang berrfungsi untuk prasarana pengiriman hasil produksi perusahaan tersebut sebagai contoh adalah Pelabuhan LNG Arun di Aceh yang digunakan untuk mengirimkan hasil produksi gas alam cair


kedaerah atau Negara lain. Pelabuhan Pabrik Aluminium Asahan di Kuala Tanjung Sumatra Utara digunakan untik melayani impor bahan baku bauksit dan ekspor alminium ke daerah atau Negara lain.

I.5.2.      Ditinjau dari segi pengusahanya
1. Pelabuhan yang diusahakan
Pelabuhan ini sengaja diusahakan untuk memberikan fasilitas-fasilitas yang diperlukan oleh kapal yang memasuki pelabuhan untuk melakukan bongkar muat barang, menaik-turunkan penumpang serta kegiatan lainnya. Pemakaian pelabuhan ini dikenakan biaya-biaya, seperti biaya jasa labuh, jasa tambat, jasa pemanduan, jasa pelayanan air bersih, jasa dermaga, jasa penumpukan, bongkar muat, dan sebagainya.
2. Pelabuhan yang tidak diusahakan
Pelabuhan ini hanya merupakan tempat singgahan kapal/perahu,tanpa fasilitas bongkar-muat, bea cukai, dan sebagainya. Pelabuhan ini umumnya hanya pelabuhan kecil yang disubsidi oleh pemerintah, dan dikelolah oleh Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

I.5.3.      Ditinjau dari fungsinya dalam perdagangan nasional dan internasional
1. Pelabuhan Laut
Pelabuhan laut adalah pelabuhan bebas dimasuki oleh kapal-kapal ber-bendera asing. Pelabuhan ini biasanya merupakan pelabuhan besar dan ramai dikunjungi oleh kapal-kapal samudera.
2. Pelabuhan Pantai
Pelabuhan pantai adalah pelabuhan yang disediakan untuk perdagangan dalam negeri dan oleh karena itu tidak bebas disingahi oleh kapal berbendera asing. Kapal asing dapat masuk ke pelabuhan ini dengan meminta ijin terlebih hulu.

I.5.4. Ditinjau dari segi penggunaannya
1. Pelabuhan ikan
Pada umumnya pelabuhan ikan tidak memerlukan kedalaman air yang besar, karena kapal-kapal mator yang digunakan untuk menangkap ikan yang tidak besar. Di Indonesia pengusahaan ikan relatif masih sederhana yang dilakukan oleh

nelayan-nelayan dengan menggunakan perahu kecil. Jenis kapal ikan ini bervariasi, dari yang sederhana berupa jukung sampai kapal motor.Jukung yang biasanya mempunyai ukuran lebar sekitar 1m dan panjang 6-7 m. Kapal  yang lebih besar terbuat dari papan atau fiberglass dengan lebar 2,0-2,5 m dan panjang 8-12 m, di gerakkan oleh motor. Kapal Ex-Trawl mempunyai lebar 4,0-5,5 dengan panjang mencapai 30-40 m. pelabuhan ikan dibuat disekitar pekampungan nelayan. Perkampungan ini harus dilengkapi dengan pasar lelang, pabrik/gudang es,persediaan bahan bakar, dan jug tempat cukup luas utuk perawatan alat-alat penangkap ikan.
2. Pelabuhan minyak
Untuk keamanan, pelabuhan minyak harus diletakkan agak jauh dari keperluan umum. Pelabuhan minyak biasanya tidak memerlukan dermaga atau pangkalan yang harus dapat menahan muatan vertikal yang besar, melainkan cukup membuat jembatan peranch atau tambatan yang dibuat menjaorok ke laut unutk mendapatkan kedalaman air yang cukup besar. Bongkar muat dilakukan dengan pipa-pipa dan pompa-pompa.
Perkembangan ukuran kapal yang cukup besar mempunyai konsekuensi draft  kapal melampaui kedalaman air pelabuhan sehingga kapal tidak bisa berlabuh. Untuk itu kapal tangker membuang sauh dilaut dalam dan mengeluarkan minyak denan menggunakan pipa bawah laut, atau memindahkan minyak ke kapal yang lebih kecil dan mengangkutnya ke pelabuhan.
3. Pelabuhan barang
Pelabuhan ini mempunyai dermaga yang dilengkapi dengan fasilitas bongkar muat barang. Pelabuhan dapat berada di pantai atau estuary dari sungai besar. Daerah perairan pelabuhan harus cukup tenang sehingga memudahkan bomgkar muat barang. Pelabuhan baran ini dibuat oleh pemerintah sebagai pelabuhan niaga atau perusahaan swasta untuk keperluan transport hasil produksinya seperti baja, aluminium, pupuk, batu bara, minyak, dan sebagainya. Sebagai contoh Pelabuhan Kual Tanjung di Sumatra Utara adalah pelabuhan milik pabrik aluminium Asahan. Pabrik pupuk Asean dan Iskandar Muda juga mempunyai pelabuhan sendiri.
4. Pelabuhan penumpang
Pelabuhan penumpang tidak banyak berbeda dengan pelabuhan barang. Pada pelabuhan barang di belakang dermaga terdapat gudang-gudang sedang untuk

pelabuhan penumpang dibangun stasium penumpang yang melayani segala kegiatan yang berhubungan dengan kebutuhan orang yang bepergian, seperti kantor imigrasi, duane,keamanan, direksi pelabuhan, maskapai pelayarn, dan sebagainya. Barang-barang yang perlu dibongkar muat tidak begitu banyak, sehingga gudang barang tidak perlu besar. Untuk kelancaran keluar masuknya penumpang dan barang, sebaiknya jalan masuk/keluar dipisahkan. Penumpang melalui lantai atas dengan menggunakan jembatan langsung ke kapal, sedang barang-barang melalui dermaga.
5. Pelabuhan campuran
Pada umumnya pencampuran pemakaian ini terbatas untuk penumpang dan barang, sedang untuk keperluan minyak dn ikan biasanya tetap terpisa. Tetapi bagi pelabuhan kecil atau masih dalam tarf perkembangan, keperluan untuk bongkar muat minyak juga menggunakan dermaga atau jembatan yang sama guan keperluan barang dan penumpang. Pada dermag dan jembatan juag diletakkan pipa-pipa untuk mengalirkan minyak.
6. Pelabuhan militer
     Pelabuhan ini mempunyai daerah perairan yang cukup luas untuk memungkinkan gerak cepat kapal-kapal perang dan agar letak bangunan cukup terpisah. Konstruksi tambatan mautpun dermaga hampir sama dengan pelabuhan barang, hanya saja situasi dan perlengkapannya agak lain. Pada pelabuhan barang letak/kegunaan bagunan harus seifisien mungkin, sedang pada pelabuhan militer bangunan-bangunan pelabuhan harus dipsah-pisah yang letaknya agak berjauhan.

I.5.5.      Ditinjau menurut letak geografis
1. Pelabuhan alam
Pelabuhan alam merupakan daerah perairan yang terlindungi dari badai dan gelombang secara alami, misalnya oleh suatu pulau, jasirahatauterletak di teluk, estuary dan muara sungai. Didaerah ini pengruh gelombang sangat kecil. Pelabuhancilacap yang terlatak diselat antara daratan cilacap dan Pulau Nusakambangan merupakancontoh pelabuhan alam yang daerah perairannya terlindung dari pengaruh gelombang, yaitu oleh Pulau Nusakambangan. Contoh dari pelabuhan alam lainnya adalah pelabuhan Palembang,Belawan, Pontianak, New York, San Francisko,London, dsb, yang terletak di muara sungai (estuary).


2. Pelabuhan buatan
Pelabuhan buatan adalah suatu daerah perairan yang dilindungi dari pengaruh gelombang dengan membuat bangunan pemecah gelombang (breakwater). Pemecahgelombang ini nmembuat daerahperairan tertutup dari laut hanya dihubungkan oleh suatu celah (mulut pelabuhan) untuk keluar masuknya kapal. Di dalam daerah tersebut dilengkapi denganalat penambat. Bangunan ini dibuat mulai dari pantai dan menjorok kelaut sehingga gelombang yang menjalar ke pantai terhalang oleh bangunan tersebut. Contoh dari pelabuhan ini adalah pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Mas, dsb.
3. Pelabuhan semi alam
Pelabuhan ini merupakan campuran dari kedua tipe di atas. Misalnya suatu pelabuhan yang terlindungi oleh lida pantai dan perlindungan buatan hanya pada alur masuk. Pelabuhan Bengkulu adalahcontoh dari pelabuhan ini. Pelabuhan Bengkulu memanfaatkan teluk yang terlindungi oleh lidah pasir untuk kolam pelabuhan. Pengerukan dilakukan pada lidah pasir untuk membentuk saluran sebagai jalan masuk/keluar kapal. Contoh lain adalah muara sungai yang kedua sisinya dilindungi oleh jettuy. Jetty tersebut berfungsi untuk menahan masuknya transport pasir sepanjang pantai ke muara sungai, yang dapat menyebabkan ter-jadinya pendangkalan pada alur dan kolam pelabuhan.

I.6          Fasilitas Pokok Pelabuhan
Fasilsitas pelabuhan dibagi menjadi dua bagian, yaitu fasilitas pokok dan fasilitas penunjang. Pembagian ini dibuat berdasarkan kepentingannya terhadap kegiatan pelabuhan itu sendiri.
I.6.1.      Fasilitas pokok pelabuhan
1. Alur pelayaran
          Alur pelayaran pelayaran dalam istilah pelabuhan mempunyai pengertian bahwa daerah yang dilalui kapal sebelummasuk ke dalam wilayah pelabuhan. Batas wilayah pelabuhan sendiri dibatasi oleh pemecah gelombang (breakwater). Alur pelabuhan mempunyai fungsi untuk memberi jalan kepada kapal untuk memasuki wilaya pelabuhan dengan aman dan mudah dalam memasuki kolam pelabuhan. Fungsi lain dari alur pelayaran adalah untuk menghilangkan kesulitan yang akantimbul


karena gerakankapal ke arah atas (minimum ships maneuver activity) dan gangguan alam.
2. Kolam pelabuhan
Kolam pelabuhan merupakan bagiandri sarana dan fasilitas pelabuhan yang berbentuk peraran yang mempunyai kedalamanyang disyaratkan. Kolam pelabuhan adalahperairan yang berada didepan dermaga yang digunakan untuk bersandarnya kappal. Untuk menaqmpung kapal dalam melakukan bert time (waktu sandar) selama dalam pelabuhan, kapal dengan mudah melakukan bongkar muat tanpa terganggu oleh gelombang, karena kolam pelabuhan berada didalam wilayah yang terlindung breakwater (pemecah gelombang).
     Kolam pelabuhanmempunyai bentukmemeanjang yang biasanya dipakai untuk pelabuhan petikemas, dan kolam yang mempunyai bentuk jari, dapat dibuat bila garis pantai mempunyai kedalaman terbesar menjorok ke laut dan tidak ter-atur khususnya dibangun untuk melayani kapal dengan muatan umum (general cargo).
3. Penahan gelombang ( Breakwater)
Penahan gelombangmempunyaifungsiyang sangat penting penting bagi pelabuhan laut, karena keadaan perairandalam pelabuhan akan menjadi tenang dan dapat mempermudah dari segi operasional pelabuhan. Penahan gelombang atau breakwater merupakan bagian fasilitas pelabuhan yang di bangun dengan bahan batu kali dengan berat tertentu atau dengan bahan buatan tertentu seperti tetraods, quadripods, hexapods atau dengan dinding tegak (caisson).
     Breakwater mempunyai fungsi untuk melindungi daerah pelabuhan dari gelombang dan dedimentasi, yaitu dengan memperkecil tinggi gelombang laut sehingga kapal dapat berlabuh dengan tenang dan melakukan bongkar muat dengan lancar serta mengurangi tingkat pengendapan pada alur dan kolam pelabuhan.
3.1. Jenis peanahan gelombang.
Penahan gelombang (breakwater)mempunyai bentukdan model yang bermacam-macam, baik dari bentuk maupun bahan penyusunnya.
3.1.2.             Penahan gelombang berdasarkan bahan penyusunnya
1.   Penahan gelombang batu alam (rubble mounds breakwater)
Penahan gelombang jenis ini menahan gaya-gaya horizontal yang di timbulkan akibat gelombang-gelombang statis dan dinamis. Dasar konstruksinya terdiri dari inti di tengah dan di sekelilingnya dipasang batu-batu besar sebagai pelindung

terhadap gerakan dan sapuan (wash away) akibat gelombang. Pelindung ini terdiri dari beberapa lapis dengan kemiringan tertentu.
2.   Pemecah gelombang batu buatan
Pemecah gelombangbatu buatan mempunyai beberapa macam bentuk seperti tetrapods, quadripods, tribar. Pemakaian batu buatan ini digunakan bila dilokasi yang diinginkan batu-batu alam tidak tersedia.
3.1.3.             Penahan gelombang berdasarkan bentuknya
1.   Pemecah gelombang sisi miring
Pemecah gelombang tipeini bamyak digunakan di Indonesia, mengingat dasar laut di perairan Indonesia kebanyakan dari tanah lunak. Selain itu batu alam sebagai bahan utama banyak tersedia. Pemecah gelombangsisi miring mempunyai sifat fleksibel. Kerusakan yang terjadi karena serangan gelombang tidak secara tiba-tiba (tidak fatal). Meskipun beberapa batu longsor, tapi bangunan masih dapat berfungsi. Kerusakan yang terjadi mudahdi perbaiki dengan menambah batu pelindung pada bagian yang longsor.
Bisanya butir batu pemecah gelombang sisi miring disusun dalam beberapalapis, dengan lapis terluar (dalam lapispelidung) terdiri dari batu dengan ukuran besar dan semakin ke dalam ukuran semakin kecil.
2.   Pemecahgelombang sisi tegak
Pada pemecah gelombang sisi miring energi gelombang dapat dapat dihancurkan melalui runup pada permuakaan sisi miring, gesekan dan turbulensi yang disebabkan oleh ketidak-teraturan permukaan. Pada pemecah gelombang sisi tegak, yang biasa ditempatkan dilaut dengan kedalaman lebih besar darintinggi gelombang, akan memantulkan gelombang tersebut.
Pemecah sisi tegak dibuat apabila tanah dasar mempunyai daya dukung besar dan tahan terhadap erosi.apabila tanahdasar mempunyai atas berupa lumpur atau pasir halus, maka lapis tersebut harus dikeruk dulu. Pada tanah dasar daya dukung kecil, dibuat dasar dari tupukan batu untukmenyebarkanbeban pada luasan yanglebih besar.dasartumpukan batu ini dibuat agak lebar sehingga kaki bangunan dapat lebih aman terhadap penggerusan.supaya benar-benar aman dari penggerusan, panjangdasar dari bangunan adalah ¼ kali panjang gelombang terbesar. Kegagalan yangsering terjadi bukan katena kelemahan konstruksinya,


tetapi karena terjadinya erosi pada kaki bangunan, tekanan yang terlalu besar dan tergesernya tanah fondasi.
Di dalam perencanaan pemecah gelombang sisi tegak perlu di perhatikan hal-hal berikut ini.
1. Tinggi gelombang maksimum harus di tentukan dengan baik, karena tak   seperti pada pemecah gelombang sisi miring, stabilitas terhadap penggulingan merupakan faktor penting.
2. Tinggi dinding harus cukup untuk memungkinkan terjadinya klapotis.
3. Fondasi bangunan harus dibuat semakin rupa sehingga tak terjadi erosi pada kaki bangunan yang dapat membahayakan stabilitas bangunan.
3.   Pemecah gelombang campuran
Pemecah gelombang campuran terdiri dari pemecah gelombang sisi tegak yang dibuat atas pemecahgelombang tumpukan batu. Bangunan ini dibuat apabila kedalaman air sangat besar dan tanah dasar tidak mampu menahan gelombang dari pemecah gelombang sisi tegak. Pada waktu air surut bangunan berfungsi sebagai pemecah gelombang sisi miring,sedang pada waktu air pasang berfungsi sebagi pemecah gelombang sisi tegak. Secara umum pemecah gelombang campuran harus mampu menahan serangan gelombang pecah.                  
Tipe pemecah gelombang campuran memerlukan pertimbangan lebih lanjut mengenai perbandingan sisi tegak dengan tumpukan batunya. Pada dasarnya ada tiga macam, yaitu ;
1.    tumpukan batu dibuat sampai setinggi air yang tertinggi, sedang bangunan sisi tegak hanya sebagai penutup bagian atas.
2.    Tumpukan batusetinggi air terendah sedang bangunansisi tegak harus me-nahan air tertinggi (pasang).
3.    Tumpukan batu hanya merupakan tambahan pondasi dari bangunan sisi tegak.

4.   Pemecah gelombang pancaran udara dan air
Pemecah gelombang pancaran udara menggunakan semburan udara untuk menghancurkan gelombang, sedang pemecah gelombang pancaran air menggunakan semburan air untuk menghancurkan gelombang.



4. Dermaga
Dermaga adalah suatu bangunan pelabuhan yang digunakan untuk merapat dan menambat kapal yangmelakukan bongkar muat barang dan menaik-turunkan penumpang. Dimensi dermaga didasarkan pada jenis dan ukuran kapal yangmerapat dan bertambat pada dermaga tersebut. Dalampertimbangan ukuran dermaga harus berdasarkan pada ukuran-ukuran minimal sehingga kapal dapat bertambat atau meninggalkan dermaga maupun melakukan bongkar muat barang dengan aman, cepat dan lancar. Di belakang dermaga terdapat halaman cukup luas. Di dalam dermaga ini terdapat aprom, gudang transit, tempat bongkar muat barang dan jalan. Apron adalah daerah yang terletk antara sisi dermaga dan sisi depan gudang dimana terdapat pengalihan kegiatan angkutan laut (kapal) ke kegiatan angkutan darat (kereta api, truk, dsb). Gudang transit digunakan untuk menyimpan barang sebaelum bisa diangkut oleh kapal, atau setelah dibongkar dari kapal dan menunggu pengangkutan barang kedaerah yang dituju.
Dermaga dapat di bedakan menjadi dua tipe yaitu wharf atau quai dan jetty atau pier atau jembatan.
a. Wharf 
Wharf adalah dermaga yang dibuat sejajar pantai dan dapat dibuat berimpit dengan garis pantai atau agak menjorok kelaut. Wharf dibangun apabila garis kedalamanlaut hampir merata dan sejajar dengangaris pantai. Wharf biasanya digunakan untuk pelabuhanbarang potongan atau petikemas dimana dibutuhkan suatu halaman terbuka yang cukup luas untuk menjamin kelancaran angkutan barang. Perencanaan wharf harus memperhitungkan tambatan kapal, peralatan bongkar muat barang dan fasilitas transportasi darat. Karakteristik kapal yang berlabuh mempengaruhi panjang wharf dan kedalaman yang diperlukan untuk merapatnya kapal.
Menurut strukturnya wharf dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu ;
    1. dermaga konstruksi terbuka dimana lantai dermaga didukung oleh tiang-tiang pancang.
    2. Dermaga konstruksi tertutup atu solid, seperti dinding massa, kaison, turap, dan dinding penahan tanah.



b. Pier atau jetty
Pier adalah dermaga yang dibangun denganmembentuk sudut terhadap garis  pantia. Pier dapat digunakan untuk merapat kapal pada satu sisi atau kedua sisinya. Pier berbentuk jari lebih efesien karenadapatdigunakan untuk merapatkapal pada keduad sisinya untuk panjang sermaga yang sama. Perairan diantara dua pier yangberdampingan disebut slip.  

I.6.2. Fasilitas Penunjang Pealabuhan
              1. Fasilitas Pelabuhan di Daratan
Muatan yang di angkut kapal dapat dibedakan menjadi barang potongan,    barang curah dan peti kemas. Barang potongan terdiri dari barang satuan seperti mobil, mesin-mesin, material yang ditempatkan dalam bungkus, koper, karung atau peti. Barang-barang ini memerlukan perlakuan khususdalam pengangkutannya. Barang curah terdiri dari barang lepas yang tidak dibungkus/dikemas, yangdapat di tuangkan atau dipompa ke dalam kapal. Barang ini dapatberupa biji-bijian (beras, jagung, gandum, dsb), butiran atau batu bara; atau bisa juga berbentuk cairan seperti minyak. Oleh karena itu berdasarkan muatan yang di angkut kapal fasilitas pelabuhan di daratan dapat dibedakan menjadi;
1.1. Terminal barang potongan
Fasilitas-fasilitas yang ada dalam terminal barang potongan tebagi menjadi ;
1. Apron
Apron adalah halaman diatas dermaga yang terbentang dari sisi muka dermaga sampai sampai gudang laut atu lapangan penumpukan terbuka. Aprom digunakan untuk menempatkan barang yang akan dinaikkan di kapal atau barang yang baru saja diturungkan dari kapal. Bentuk aprom tergantung pada jenis muatan , apakah barang potongan, curah atu peti kemas.
Lebar aprom tergantung pada fasilitas yang ditempatkan di atasnya, seperti jalang untuk truk atau kereta api, kran, alat pengngkut lainnya seperti forklift, kran mobil, gerobak yang di tarik traktor, dan sebagainya.
2. Gudang laut dan lapangan penumpukan terbuka
            Gudang laut (disebut juga gudang pabean, gudang linea ke I, gudang transit) adalah gudang yang berada di tepi perairan pelabuhan dan hanya dpisahkan dari air laut oleh dermaga pelabuhan. Gudang ini menyimpan barang-barangyang baru

saja di turngkan dari kapal dan yang akan dimuat ke kapal, sehinggga barang terlindung dari hujan dan terik matahari. Untukbarang yang tidakmemerlukan perlindungan, seperti mobil, truk, besi beton, dan sebagainya dapat ditempatkan pada lapangan penumpukan terbuka. Barang-barang tersebutharusdi selesaikan urusan adminitrasinya, seperti pengecekan untukmenyelesaikan antarbarang dan packinglist, pembayaran bea masuk (import) ataubea eksport dan biaya-biya lainnya.
            Gudang laut hanya menyimpan barang-barang sementara waktu sambil menunggu pengangkutan lebih lanjut ke tempat lain tujuan terakhir. Masa penyimpanan barang-barang dalamgudang laut adalahmaksimal 15 hari untuk barang-barang yangakandimasukkan kedalamperedaranbebas setempat (denganangkutan darat) dan maksimal 30 hari untukbarang-barang yang akan diteruskan kepelabuhan lain (dengan kapal lain). Apbila sampai batas waktu tersebut barang belumbisa dikirim ketempat tujuan akhir maka barang harus dipindahkan ke gudang lini ke II (warehouse). Fasilitas yang ada di gudang laut biasanya tidak dipungut biaya untuk pemakaian antara 3 sampai5 hari. Tetapi apabila lebih dariwaktu tersebut akan dikenakan biaya.
3. gudang
            Gudang atau werehouse digunakan untuk menyimpang barang dalam waktu lama. Gudang ini di buat agak jauh daridermaga. Hal ini mengingatbeberap hal berikut ini.
1.    ruagan yang tersedia di dermag biasanya terbatas dan hanya digunakan untuk keperluan bongkar muat dari dan/ ke kapal.
2.    Pengoperasian gudang laut sangat berbeda dengan gudang. Gudang laut memerlukan gang yang lebih besar untik penanganan secara cepat barang-barang dengan menggunakan peralatan pengangkut (fork lift, dsb).
3.    Dari tinjauan ekonomis pembuatan gudang di dermaga tidak meng –untungkan, mengingat konstruksi gudang lebih berat dari gudang laut, sementara kondisi tanah di daerah tersebut kurang baik sehingga diper-lukan fondasi tiang pancang yang mahal.



4. Bangunan pendingin
            Apabila barang yang memerlukan pendinginan dikapalkan oleh kapal pendingin dan didistribusikan ke daerah tujuan dengan kereta api atau truk, baka diperlukan bangunan pendingin (cold storage buiding) di dermaga sedemikian sehingga barang-barang beku tersebut dapat dipindahkan dari kapal di bangunan cold storage dalam waktu yang sesingkat mungkin. Dengan demikian kerusakanmakanan yang terjadi dapat ditekan. Bahanmakanan yang memerlukan pendingin adalah daging, ikan, buah-buahan sayur-sayuran.
5. Fasilitas penampungan barang potongan
            Ada beberapa alat yang digunakan untuk melakukan bongkar muat barang potongan, seperti yang akan dijelaskan berikut ini.
1. Derek kapal (ship’s derricks)
Alat ini digunakan untuk mengangkat muatn yang tidak terlalu berat dan pengangkatan berlaku untuk radius kecil, yaitu sekitar 6 meter dari lambung kapal. Derek kapal ini terdiri lengan, kerekandan kabel baja yang digerakkan (dilepasdan ditarik) denganbantuan pesawat lain yang disebut winch. Pasa sebuah kapal biasanyaterdapatbeberapa buah derek yang bisa berkapasitas 0,5 ton, 2,5 ton, 5 ton; yang tergantung dari besar kecilnya kapal. Untuk kapal-kapal besar biasanya mempunyai satu atau beberapa buah derek berat (heavy derrick) yang berkapasitas 10 ton, 20 ton dan bahkan ada yang 50 ton sampai 70 ton. Radius pengangkatan derek kapal ini biasanya kecil, sebab apabila terlalu panjang bisa mengganggu stabilitas kapal.
2. Kran darat
Kran darat adalah pesawat untuk bomkar muat dengan lengan lengan cukup panjang yang ditempatkan di atas dermaga pelabuhan, dipinggir permukaan perairan pelabuhan. Kran inimempuyai roda dan dapat berpindah sepanjang relkereta api. Daya angkat kran darat bermacam-macam, bisa 2,5 ton, 5 ton, 10 ton, 20 ton atau lebih. Sesui dengan besar kecildaya angkat, jangkauan lengan kran juga dapat diatur.
3. Kran terapung (floating crane)
Kran terapung adalahpesawatbongkar muat yang mempunyai mesin sendiri untuk bergerak dari suatu tempat ketempat lainnya. Tetepi ada juga pesawat jenis ini yang tidak dilengkapi mesi sendiri, dan perpindahan tempat

dilakukan dengan ditarik oleh kapal tunda. Lengannya dipasangmati dan tidak dapat di atur panjang jangkauannya seperti kran darat. Kran terapung biasa berkapasitas besar (10 ton, 25 ton, 50 ton, 200 ton atau lebih). Apabila pengangkatan muatanberat tersebut dilakukan dengan menggunakan derek kapal dapat membahayakan fasilitas kapal, sedang jika dengan kran darat dapatmenimbulkan tekanan terlalu besar pada lantai dermaga.
4. Alat pengangkut muatan diatas dermaga
Ada beberapa macam alat untuk mengangkat dan mengangkut barang diatas dermaga, di antaranya adalah fork lift, kran mobil, gerobak yang ditarik traktor, dsb.
Fork lift banyak digunakan untuk mengngkat barang dari apron danmembawa kegudang laut, danbisa menumpuknya sampai pada ke-tinggian 6 meter. Penumpukan barangini memungkinkan penggunaan ruangan lebih efesien. Selain fork lift kran mobil dengan arodadariban mobil/truk yang dilengkapidengan derek yangbisa di atur panjang lengan-nya secara hidraulis juga banyak digunakan di atas dermaga. Alat ini dapat beroperasi di ruang sempit. Traktor yang menarik gerbong dengan dasar rendah dan beroda truk dapat digunakan apabila jarak antara sisi kapal dan tempat penumpukan barang cukup jauh untuk dilayani fork lift secara efisien. Gerbong ini juga berguna umtuk mengangkut barang campuran yang terdiri dari bungkusan-bungkusan kecil yang di kirim ke alamat yang berbeda. Barang dalam bentuk satuan juga dapat diangkut secara horisontal untuk jarak yang pendek denganmenggunakan sabuk berjalan (belt conveyor).
1.2. Terminal barang curah (bulk cargo terminal)
Muatan curah dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
         a.  Muatan lepas yang berupa hasil tambang seperti batu bara, biji besi, bouxit, dan hasil pertanian seperti beras, gula, jagung dan sebagainya.
      b.   Muatan cair yang diangkut dalam kapal tangki seperti minyak bumi, minyak kelapa sawit, bahan kimia cair dan sebagainya.
Terminal muatan curah harus dilengkapi dengan fasilitas penyim-panan muatan. Tipe penyimpanan tergantung pada jenis muatan, yang bisa berupa lapangan untuk mengankut muatan, tangki-tangki untuk minyak, silo atau gudang untuk material


yang memerlukan perlindungan terhadap cuaca, atau lapangan terbuka untuk menimbung batu bara, biji besi dan bauxit.
Barang curah dapat ditangani secara ekonomis dengan mengguakan belt conveyor atau bucket elevator atu kombinasi dari keduanya. Barang cair dapat diangkut dengan pompa. Sedang barang berupa bubuk, material butir halus semen dan butiran atau material yang ringan dapat diangkut dengan alat penghisap (alat pneumatis). Belt conveyor adalah alat yang serbaguna untuk mengangkut berbagai macam barang berbentuk bubuk, butiran dan kental. Alat tersebut dapat untuk mengangkut material dalam jumlah besar untuk jarak jauh, baik secara horisontal maupun naikatau turung dengan kemiringan 150 sampai 200. alat ini digunakan untuk memindahkan material dari tempat penimbunan ke dalam kapal, dan sebaliknya.
1.    Terminal barang tambang (batu bara, biji besi, bouxit)              
  Terminal unutk barang curah hasil tambang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu termianal untuk pembuatan dan pembongkaran. Operasi pemuatan muatan curah ke kapal ( eksport) berbeda dengan pembongkaran muatn dari kapal (impor). Terminal pemuatan berada di daerah penghasil barang tambang yang mengirim muatan kedaerah yang membutuhkan. Termianal mutan curah untuk kapal-kapal besar dibuat tampa menggunakan dermaga (wharf atua jetty) seperti pada pelabuhan umumnya. Dalam hal ini kapal ditambatkan di lepas pantai dengan menggunakan dolpin, pelampung penambat atu jangkar; dan bongkar muat muatan di lakukan dengan pipa atau alat pembawa lainnya seperti belt conveyor.terminal pemuatan biasanya di lengkapi dengan alat pemut yang bisa bergerak secara radialatau linear diatas badan kapal untuk menuangkanmuatan yang dibawanya dengan belt conveyor.
2.    Terminal muatan biji-bijian
Untuk biji-bijian seperi beras, gula, tepung dan sebagainya; bong-muat barang dapat dilakukan dengan alat khusus berupa alat penghisap atau dengan elevator. Muatan tersebut kemudian di simpan dalam silo, yatu suatu tabung besar yang tinggi yang terbuat dari beton. Silo ini di hubungkan dgn peralatan yang ada didermaga denag menggunakan belt conveyor atu bucket elvator. Dari silo ini muatan di pindahkan ke truk atau gerbong kereta api.



3.    Terminal minyak
Pada terminal minyak pada umumnya menggunakan fasilitas penambatan berupa jetty menjorok ke laut yang dilengkapi dolpin penahan dan dolpin penambat. Bongkar muat dilakukan dengan tenaga pompa me-lalui pia-pipa yang dipasang pada jetty dan menghubungkan kapal dengan tangki penyimpa-nan. Tanki ini terbuat dari baja yang dibangun diatas tanah.
Untuk kapal tangker raksasa yang mempunyai draf besar sehingga tidak bsa masuk ke pelabuhan yang ada, mak penambatan dilakukan di lepas pantai. Bongkar muat muatan dilakukan dengan menggunakan pipa bawah laut, atau dengan memindahkan muatan ke dalam kapal yang lebih kecil kemudian membawanya ke pelabuhan.
1.3. Terminal Peti Kemas
       Pengiriman barang dengan menggunakan peti kemas telah banyak dilakukan, dan volumenya terus meningkat dari tahu ke tahun. Beberapa pelabuhan terkemuka telah mempunyai fasilitas-fasilitas pendukungnya yang berupa terminal peti kemas seperti Pelabuhan Tanjung Priok, tanjung Mas, Tanjung Perak, Beawan dan Ujung Pandang.
   Pengangkutan dengan menggunakan peti kemas memungkinkan barang-barang digabung menjadi satu dalam peti kemas sehingga aktivitas bongkar muat dapat di mekanisasikan. Hal ini dapat meningkatkan jumlah muatn yang bisa di tangani sehingga waktu bongkar muat menjadi lebih cepat.
            Pengiriman barang dengan menggunakan peti kemas dapat dibeda-kan menjadi dua macam yaitu full container load (CFL) dan less than container load (LCL). Pada CFL seluruh isi peti kemas milik seorang pengirim atau penerima muatan, sedang dalam LCL peti kemas yang berisi beberapa pengiriman yang masing-masing pengirim terdiri dari sejumlah muatan yang volumenya kurang dari satu peti kemas.
            Pengangkutan dengan peti kemas ini memungkinkan diterpakan pengangkutan intermodal dari pintu ke pintu (door to door), yaitu pengangkutan yang berasal dari dari pintu gudang eksportir ke pintu gudang importir diselenggarakan oleh satu tangan. Eksportir dan importir hanya berhubungan dengan satu perusahaan saja tanpa mengingat bahwa pengangkutan barang dilakukan oleh lebih dari satu perusahaan pelayaran. Dalam pengiriman door to door tersebut digunakan berbagai macam alat transportasi seperti truk/kereta api, kapal laut, truk/kereta api

sehingga sistem ini disebut intermodal. Pada pengiriman door to door ini muatan dimasukkan ke peti kemas di gudang eksportir dan peti kemas itu tidak dibuka sampai menyelesaikan seluruh rangkain perjalanannya sampai di gudang importir untuk kemudian dibongkar isinya. Dinegara-negara maju pemeriksaan pabean dilakukan pada waktu barang dimasukkan di peti kemas di gudang eksportir dan pada waktu pembongkaran barang di gudang importir, sehingga proses pengangkutan peti kemas menjadi lancar dan cepat. Di Indonesia hal sperti itu belum bisa dilaksanakan karena berbagai hambatan administratif, psikologis dan mental. Oleh karena itu pengiriman door to door ke dan dari indonesia tetap mengalami pemeriksaan pabean pelabuhan.
1. Penanganan Peti kemas
Penanganan bongkar muat di terminal peti kemas dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu lift on/lift off  (Lo/Lo) dan roll on/roll off (Ro/Ro). Pemakain  kedua metode tersebut tergantung pada cara kapal dimuati dan dibongkar muatannya.
Metode Lo/Lo dapat dilakukan dua cara. Kapal peti kemas menggunakan krannya untuk mengangkat peti kemas pada dan dari kapal.cara ini sudah banyak ditinggalkan. Pada saat ini penanganan peti kemas banyak dilakukan dengan peralatan yang ditempatkan di dermaga. Peralatan yang digunakan adalah gantry crane, yaitu kran raksasa yang dipasang diatas rel disepanjang dermaga untuk bongkar muat peti kemas dari dan ke kapal.
Pada metode Ro/Ro peti kemas berada di atas chasis atau trailer yang ditarik traktor masuk kapal. Trailer dan peti kemas tersebut kemudian dilepaskan dari traktor dan ditempatkan di geladak kapal. Selanjutnya traktor tersebut kembali kedarat untuk mengambil trailer yang lain. Operasi bongkar muat ini dilakukan secara simultan. Kapal tipe Ro/Ro mempunyai geladak yang bertingkat .kelebihan dari pengoperasian Ro/Ro adalah dapat memuat jenis muatan lain seperti pipa dan baja yang berukuran panjang, tangki-tangki besar, mobil, truk, dan sebagainya. Kekurangannya adalah banyaknya ruang kosong yang tidak dimanfaatkan, mengingat peti kemas berada di atas chasis, sehingga mengurangi kapasitas kapal.




2. Fasilitas Pada Terminal Peti Kemas
Beberapa fasilitas yang ada terminal peti kemas :
1). Dermaga
Terminal peti kemas memelukan halaman yang luas, yang biasanya lebih dari 10 ha tiap satu tambatan. Untul itu maka dermaga harus bertipe wharf , bukan pier berbentuk jari.
2). Apron
Apron terminal peti kemas lebih besar dibanding dengan apron terminal yang lain, yang biasanya berukuran 20 – 50 m. Pada apron ini ditempatkan peralatan bongkar muat peti kemas sperti gantry crane, rel-rel kereta api dan jalan truk trailer, serta pengoperasian peralatan bongkar muat peti kemas lainnya. Fasilitas-fasilitas tersebut memberikan beban yang sangat besar terhadap dermaga dan harus diperhitungkan secara teliti di dalam perencanaan.
3). Marshalling Yard (lapangan penumpukan sementara)
Lapangan ini digunakan untuk menempatkan secara  sementara peti kemas yang akan dimuat ke dalam kapal. Lapangan berada dekat dekat dengan apron.
4). Container Yard (lapangan penumpukan peti kemas)
Container yard adalah lapangan penumpukan peti kemas yang berisi muatan FCL dan peti kemas kosong yang akan dikapalkan. Lapangan ini berada didaratan dan permukaannya harus diberi perkerasan untuk bisa mendukung peralatan pengangkat / pengangkut dan beban peti kemas. Container yard harus memiliki gang-gang baik memanjang  maupun melintang untuk beroperasinya perlatan penganan peti kemas.
5). Container Freight Station(CFS)
CFS adalah gudang yang disediakan untuk barang-barang yang diangkut secara LCL. Di CFS pada pelabuhan pemuatan, barang-barang dari beberapa pengiriman dimasukkan menjadi satu dalam peti kemas. Di pelabuhan tujuan/pembongkaran, peti kemas yang bermuatan LCL diangkut CFS dan kemudian muatan tersebut dikeluarkan dan ditimbun dalam gudang perusahaan pelayaran yang bersangkutan dan peti kemasnya dikembalikan ke kapal.




6). Menara Pengawas
Digunakan untuk pengawasan di semua tempat dan mengatur serta mengarahkan semua kegiatan di terminal, seprti pengoperasian peralatan dan pemberitahuan arah penyimpanan dan penempatan peti kemas.
7). Bengkel Pemeliharaan
Mekanisasi kegiatan bongkar muat muatan di terminal peti kemas menyebabkan dibutuhkannya perawatan dan reparasi peralatan yang digunakan dan juga untuk memperbaiki peti kemas kosong yang dikembalikan.
8). Fasilitas Lain
Di dalam terminal peti kemas diperlukan pula beberapa fasilitas umum lainnya seperti sumber tenaga listrik untuk peti kemas khusus berpendingin, suplai bahan bakar, suplai air tawar, penerangan untuk pekerjaan pada malam hari dan kemanan, dll.

3. Sistem Penangan Peti Kemas di container yard
         Berdasarkan pada mesin penanganan yang digunakan pada contaiener yard , sistem penganan peti kemas dapat dibedakan menjadi tiga tipe berikut ini.
1. Sistem chasis
Pada sistem ini peti kemas ditaruh diatas chasis dan ditempatkan di marshalling yard. Sistem chasis cocok untuk pengiriman door to door. Selain itu jumlah muatan yang rusak dapat dikurangi karena peti kemas jarang diangkat. Tetapi sistem ini mempunyai kekurangan yaitu diperlukan lapangan yang luas.
2. Sistem stradle carrier
Pada sistem ini peti kemas ditempatkan di tanah (yang telah diperkeras/dibeton) pada marshalling yard. Pengangkatan atau pemindahan dilakukan oleh straddle carrier. Kelebihan dari sistem  ini adalah dimungkinkan menyimpan peti kemas dalam tumpukan hingga luas dapat dikurangi. Sedang kekurangannya adalah diperlukan kembali mengangkut peti kemas ke truk trailer, sehingga frekuensi pemuatan lebih tinggi.
3. Sistem transtainer
Pada sistem ini digunakan transtainer untuk penanganan peti kemas di container yard. Pemakaian transtainer memungkinkan untuk menyusun peti kemas


dalam enam sampai sembilan baris dan penumpukan sampai lima tingkat. Selain itu tidak diperlukan gang, sehingga pemakaian lapangan dapt lebih efektif.

I.6.3.      Alat Pemandu Pelayaran
        Alat pemandu pelayaran diperluakn untuk keselamatan, efesiesi dan kenyamanan pelayaran kapal. Alat ini dapat dipasang di sungai, saluran, pelabuhan dan di sepanjang pantai; sehingga pelayaran kapal tidak menyimpang dari jalurnya. Selain sebagai pemandu pelayaran, alat ini juga berfungsi sebagi peringatan pada kapal akan adanya bahaya, seperti karang, tempat-tempat dangkal, dan juga sebagai pemandu agar kapal dapat berlayar dengan aman di sepanjang pantai, sungai, serta memandu kapal masuk ke pelabuhan. Alat pemandu ini biasa berupa konstruksi tetep atau konstruksi terapung yang di lengkapi dengan menara api, bel, bunyi peringatan lain,dan radar. Alat pemandu pelayaran tersebut telah distandarisasi.
              Alat Pemandu Konstruksi Tetap
Alat pemandu pelayaran dengan konstruksi tetap dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
1.    Rambu pelayaran pada pier, wharf, dolphin, dan sebagainya.
2.    Rambu suar pada pemecah gelombang, pantai dan sebagainya.
3.    Mercu suar
Alat Pemandu Konstruksi Terapung
          Alat pemandu tipe ini berupa pelampung (buoy) yang diletakkan pada suatu tempat tertentu. Pelampung ini diberi alat pemberi tanda peringatan yang bisa berupa lampu, pemantul gelombang radar (radar reflektir), bel atau bunyi peringatan lainnya, yang tergantung pada penggunaannya. Sumber cahaya berasal dari baterai listrik atau gas. Pada tipe ini alat pemandu pelayaran dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1.    kapal rambu suar, apabila disuatu lokasi sulit untuk dibangun mercu suar, maka kapal kecil bobot 500 ton dapat digunakan untuk menggantikannya.
2.    pelampung, juga digunakan sebagai alat bantu pelayaran yang diangker pada suatu tempat yang dianggap tepat. Pelampung ini bisa diberi lampu atau tidak, atau juga bisa diberi radar pemantul, bel atu bunyi

peringatan, yang disesuikan dengan pengguanannya. Jenis-jenis pelampung yang digunakan sebagai pemandu pelayaran yaitu :
1.    Pelampung berbentuk tiang.
2.    pelampung berbentuk kaleng.
3.    nun buoy.
4.    pelampung bercahaya ( ligted buoy)
5.    pelampung berbentuk bola (sphecial buoy)
6.    pelampung dengan tanda suara (sound warning buoy)





        
  




























BAB II
ANALISIS UKURAN UTAMA KAPAL
II.1.      Tipe dan Ukuran Utama Kapal
II.1.1.   Kapal
Panjang, lebar, sarat (draft), dan ukuran-ukuran lainnya kapal yang akan menggunakan pelabuhan berhubungan langsung pada perencanaan pelabuhan dan fasilitas-fasilitas yang harus tersedia di pelabuhan tersebut.
II.1.2.   Ukuran Utama Kapal
Ukuran utama kapal yang digunakan dalam perencanaan pelabuhan.
1.    Deadweight Tonage ( DWT )
Deadweight Tonage,DWT  (bobot mati kapal) yaitu berat total muatan dimana kapal dapat mengangkut dalam pelayaran optimal (draft maksimum). Jadi DWT  adalah selisi antara displasemen displacement tonnage loaded dan displacement tonnage light.
DWT kapal yang diambil adalah DWT Kapal pembanding yang mendekati DWT kapal rancangan.

2.    Gross Register Tons (GRT)
Gross register tons, GRT  (ukuran isi kotor) adalah volume keseluruhan ruagan kapal ( 1 GRT = 2,83 m3 = 100 ft3 ).

3.    Netto Register Tons (NRT/LWT)
Netto register tons, (ukuran isi bersih) adalah ruangan yang di sediakan untuk muatan dan penumpang, bersama-sama dengan GRT di kurangi dengan ruangan-ruangan yang di sediakan untuk nakhoda dan anak buah kapal, ruang mesin, gang, kamar mandi, dapur, ruang peta. Jadi NRT adalah ruangan-ruangan yang dapat didayagunakan, dapat di isi dengan muatan yang membayar uang tambang.

4.    Sarat Kapal
Sarat (draft) adalah bagian kapal yang terendam air pada keadaan muatan maksimum, atau jarak antar garis air pada beban yang direncanakan (designed load water line) dengan titik terendah kapal.


5.    Panjang Kapal
Panjang total (leng overall, Loa) adalah panjang kapal di hitung dari ujung depan (haluan) sampai ujung belakang (buritan).

6.    Panjang Garis Air (Length Between Perpendiculars)
Panjang garis air (length Between Perpendiculars) adalah panjang antara ke dua ujung desain load water line.

7.    Lebar Kapal (Beam)
Lebar kapal (beam) adalah jarak maksimum antara kedua sisi kapal.

8.    Displacement Tonage
Dispalasemeat tonnage, DPL (ukuran isi tolak) adalah volume air yang dipindahkan oleh kapal, dan sama dengan berat kapal. Ukuran isi total kapal bermuatan penuh disebut dengan displacement tonnage loaded, yaitu berat kapal maksimum. Apabila kapal sudah mencapai displacement tonnage loaded masih dimuati lagi, kapal akan terganggu stbilitasnya sehingga kemungkinan kapal tenggelam menjadi besar. Ukuran isi tilak dalam keadaan kosong disebut dengan displacement tonnage light, yaitu berat kapal tampa muatan. Dalam hal ini barat kapal adalah termaksud perlengkapan berlayar, bahan bakar, anak buah kapal, dsb.

DATA KAPAL PEMBANDING 8500 DWT
NAMA KAPAL/
UKURAN
ISA
MANDIRI
MAKMUR
SEJATI
RIMBA
LIMA
TIRTA
MAS
DWT (ton)
8655
8505
8304
8596
GRT (ton)
4902
6962
5237
4918
Net (ton)
3559
4784
2293
3254
Loa (m)
116,49
109,89
118,45
105,3
Lbp (m)
107
102
110
98,8
B (m)
18,3
18,7
18,0
15,85
H (m)
9,3
13,3
9,0
10,5
T (m)
7,2
7,68
7,2
8,5
V (knot)
-
12,88
15,00
-

DATA KAPAL PEMBANDING 300 GRT
NAMA KAPAL/
UKURAN
BAHTERA PRINCESS
NUKU
PAPUYU
PANGESTU
DWT (Ton)
-
-
-
-
GRT (Ton)
378
352
290
331
Net (Ton)
114
105
87
120
Loa (m)
31
39
33,5
37,32
Lbp (m)
29,16
32
28,32
34
B (m)
12,7
10,5
9
7,4
H (m)
2,9
2,9
2,7
3
T (m)
-
1,8
1,7
2,2
V (Knot)
20
10,8
-
12

Dari Data Kapal Pembanding diatas, yang dipilih sebagai Kapal Pembanding adalah Kapal MAKMUR SEJATI (8505 DWT) dan Kapal PANGESTU (331 GRT)
1.    Penentuan Ukuran-ukuran Utama Kapal
a.    Penentuan Lbp (Length between Perpendiculars)
**    Makmur Sejati (8505 DWT)      
       Lbp (R)   =       x LbpP
                     =        x 102
                     =       102  meter
**    Pangestu (331 GRT)
       Lbp (R)   =       x LbpP
                     =        x 34
                     =       33 meter
b.    Penentuan Lwl (Length Water Line)
**    Makmur Sejati (8505 DWT)
       Lwl (R)    =       1,025 x Lbp
                     =       1,025 x 102
                     =       104,55  meter
**    Pangestu (331 GRT)
       Lwl (R)    =       1,025 x Lbp
                     =       1,025 x 34
                     =       34,85 meter                     

c.    Penentuan Loa (Length Over All)
**    Makmur Sejati (8505 DWT)
       Loa (R)   =       110 % x Lbp
                     =       110 % x 102
                     =       112,2  meter
**    Pangestu (331 GRT)
       Loa (R)   =       110 % x Lbp
                     =       110 % x 34
                     =       37,4 meter

d.    Penentuan Lebar Kapal
**    Makmur Sejati (8505 DWT)
       B (R)       =        x BP
                     =        x 18,7
                     =       18,7  meter

**    Pangestu (331 GRT)
       B (R)       =        x BP
                     =        x 7,4
                     =        7,2 meter

e.    Penentuan Tinggi Kapal
**    Makmur Sejati (8505)
           =       11,89
       HR             =      
                     =       8,57  meter
**    Pangestu (331 GRT)
           =       11,89
       HR          =      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar